Undangan Pernikahan

Bismillaahirrahmaanirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Berikut terlampir Undangan Pernikahan kami.
Mohon do’a restu & kehadirannya.
Kurang lebihnya kami mohon maklum,
dan kami ucapkan terimakasih sebelumnya.


Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh

Ruli & Erna

Nb: Undangan dalam bentuk flash yang dikompres
dan MS Office 2007 (ppsx) resolusi layar tinggi, denah format pdf
Untuk simple, bisa juga link ke alamat di bawah ini

(http://www.pingg.com/rsvp/z57jr6xk7fg2ce2b6)

Ada Pembajakan Istilah “Islam Transnasional” dan “Wahabi”

From Email

Istilah Wahabi dan transnasional mendadak terkenal. Tanpa ada angin dan hujan, ia, tiba-tiba dikaitkan dengan teror bom. Uniknya, yang meluncurkan istilah Wahabi bukan orang yang selama ini dikenal intens ada sangkut-pautnya dengan Islam. Lebih merepotkan, media ikut andil mengkampanyekan stigma itu tanpa mengerti benar apa arti sesungguhnya istilah itu berikut dampaknya. “Ada semacam pembajakan istilah “Islam transnasional” dan “Wahabi” akhir-akhir ini,” kata Asep Sobari.

Berikut hasil wawancara dengan peneliti sejarah Islam pada Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Asep Sobari, Lc (33). Lulusan Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponogoro (1994) dikenal pengamat sejarah Islam. Ia pernah melanjutkan studi di Univ. Islam Madinah (1999), tempat pemikiran Muhammad Syeikh Abdullah bin Wahab berkembang. Kepada redaksi, secara panjang lebar Asep menjelaskan ada apa dibalik stigma “Wahabi” dan “transnasional” yang akhir-akhir ini marak dibicarakan.

Istilah wahabi, akhir-akhir ini seolah menjadi polemik oleh sejumlah golongan. Bisakah antum menjelaskan latar belakang istilah itu?

Istilah Wahabi ini istilah yang dimunculkan dan dikaitkan dengan gerakan Muhammad Syeikh Abdullah bin Wahab di Arab Saudi. Menurut saya, dari segi mazhab, sebenarnya Syeikh Abdullah bin Wahab juga menganut mazhab Hambali. Di mana mazhab itu adalah merupakan salah satu dari 4 mazhab lainnya yang diakui oleh seluruh negara. Termasuk NU yang menganut ahlussunnah Waljamaah (ASWAJA). Dalam masalah akidah tidak ada sesuatu yang baru dan melenceng darinya. Yang ada cuma penyegaran dari Ibnu Taimiyah. Pandangan akidanya murni. Makanya dikenal dengan memurnikan tauhid.

Tapi mengapa dikaitkan dengan teror?

Ya itu dia. Jadi letak ekstrim nya di mana? Apalagi dikait-kaitkan dengan ektrimis dan teroris. Kok bisa, dari mana?

Menurut Anda, dari mana penyebutan istilah Wahabi itu?

Sebenarnya istilah ini bukan dinamakan oleh mereka sendiri (Syeikh Muhammad Abdullah Bin Wahab atau kelompoknya), melainkan justru dari pihak golongan luar. Masalahnya, kenapa orang luar yang mengatakan Syeikh Abdullah bin Wahab adalah gerakan Wahabi? Padahal ia sendiri tidak mengatakan demikian. Nah, kita patut mempertanyakan kepada yang memberi sebutan itu. Menurut mereka Wahabi itu sebenarnya siapa dan apa? Apa gerakannya apa gagasanya? Semua itu bisa diskusikan secara ilmiah dan melalui jalur akademis. Sudah banyak literatur yang membahas gagasan-gagasan Abdullah Bin Abdul Wahab. Setidaknya, dari situ bisa mengetahui, apa benar Wahabi itu menebarkan aroma teror dan tindakan ekstrimisme sebagaimana disebutkan beberapa orang yang tak mengerti benar.

Bagaimana pandangan Syeikh Abdullah bin Wahab tentang kekerasan, misalnya?

Menurut catatan sejarah, beliau sendiri tidak memiliki gagasan maupun pemikiran seperti itu. Beliau tidak pernah membolehkan pembunuhan. Jangankan pembunuhan terhadap Muslim, di luar Muslim juga diharamkan untuk dibunuh. Jadi, sekali lagi, tidak ada pandangan beliau yang mengidentifikasi sebagai gerakan ektrimisme.

Bagaimana kasus konflik suku dan perang saudara di Arab?

Adapun sejarah perang, praktis semua Negara punya sejarah konflik atau perang. Tapi aneh saja bisa dikaitkan dengan kasus terorisme. Dan apa kaitannya dengan Syeikh Abdullah bin Wahab. Lagi pula saya masih bingung istilah Wahabi itu apa? Coba yang melontarkan pernyataan itu menjelaskan. Apakah orang yang ada di Saudi atau yang mengikuti pemikiran Syeikh Abdullah Bin Wahab.

Jadi apa sebenarnya yang terjadi dengan munculkan istilah Wahabi itu?

Yang membuat istilah Wahabi sebenarnya adalah orang ataupun gologan di luar kelompok penganut pemikiran Syeikh Abdullah Bin Wahab yang tidak senang dengan gerakannya. Dalam sejarah, ada gerakan rival politiknya, berkaitan dengan Dinasti Ustmaniyah, pemerintah di Hijaz, dan sejumlah perbedaan paham antara mazhab Abdul Wahab dengan ulama Hijaz. Kemudian, muncullah stigma-stigma yang dimunculkan untuk mendeskriditkan Abdullah Bin Wahab. Namun hal itu pernah diluruskan oleh beliau. Jadi, sebetulnya, nama atau istilah Wahabi itu bukan dari dalam, melainkan dari luar untuk memberikan stigma dari nama ini. Untuk lebih menarik, kemudian tokoh gerakan itu dikenallah menjadi gerakan Wahabisme, yang pada dasarnya, tidak memiliki keterkaitan dengan Abdullah bin Wahab di Arab Saudi.

Jadi semacam ada pendistorian sejarah ya?

Ya benar. Ada semacam pendistorsian fakta sejarah. Sekarang ini banyak kelompok gerakan Islam sangat eksis. Sebagian memakai pemikiran Syeikh Abdullah bin Wahab. Namun belum tentu mewakili orisinalitas pemikiran Syeikh bin Abdul Wahab sendiri. Bisa tidak representative. Sama dengan istilah transnasioanal yang sering didengung-dengungkan sekarang ini.

Mereka menyebut istilah transnasional maksudnya apa? Itu definisi yang tidak jelas. Mendefinisikan ada keterkaitan pola-pola gerakan Islam Indonesia dengan Islam di luar negeri itu terlalu dangkal. Karena pada dasarnya Islam tidak menganut pembedaan lokal atau internasional. Islam tidak mengenal territorial dan Negara, semua sama. Semuanya dasarnya transnasional. Tokoh-tokoh Islam di manapun, pernah belajar Islam di Timur Tengah. Termasuk tokoh-tokoh NU. Rahmatan lilalamin itu trananasional. Namanya juga rahmatan lillalamin. Jadi menurut saya, ada pembajakan terminologi. Kemudian didefinisikan tertentu untuk kepentingan tertentu. Kita ini Islam rahmatan lil’alamin bukan Islam lokal. NU dan Muhammadiyah juga seperti itu. Justru kalau ada Islam lokal, malah nggak jelas alias bid’ah. Shalat kan satu dan dasar-dasar pemikirannya kan satu.

Jadi pembagian istilah nasional dan transnasional itu menyesatkan gitu?

Ya. Contoh nyata. Ada buku berjudul “Ilusi Negara Islam”. Buku yang menjadi polemik karena sumbernya mereka sendiri. Ada sih yang merujuk Gus Dur dan Syafii Maarif. Tapi yang jelas, buku ini didukung Libforaall, sebuah LSM asing di Indonesia. Menurut saya, ini adalah transnasional paling nyata. Menyebut dengan Islam transnasional dengan kekuatan lokal. Libforaall itu bukan lokal, jadi ini harus dikritisi.

NU dan Muhammadiyah juga terpengaruh transnasional. Pendirinya NU ada hubungan dengan transnasional. Para kiai ada hubungan dengan ulama di Mekah, hijaz dan lainnya. Tokoh-tokoh NU di Indonesia itu punya keterkaitan dengan [alm] Syeikh Alawi Al-Maliki di Mekkah. Jadi tidak murni mazhab lokal. Selain itu, secara resmi Imam Syafii lahir di Gaza dan besar di Mekah. Lalu belajar di Mesir dan kemudian dipakai di Indonesia, termasuk NU. Toh tidak pernah dipermasalahkan. Apalagi dianggap transnasional.

Jika definisi Islam transnasional adalah sebuah gerakan yang berafiliasi baik secara mazhab dan pemikiran ke ulama Timur Tengah, maka seluruh gerakan Islam di Indonesia adalah transnasional. Jangan lupa, pendiri dua ormas besar ini (Muhammadiyah dan NU) pernah belajar di Timur Tengah dan memakai mazhab mereka.

Lantas, bagaimana dengan pendefinisan beberap pihak tentang Wahabi dan kaitan dengan teror itu?

Ada semacam pembajakan istilah “Islam transnasional” dan “Wahabi” akhir-akhir ini. Apalagi, jika istilah tersebut dikonotasikan negatif, sebagai gerakan penebar teror. Terminologi buatan itu diredefiniskan untuk kepentingan tertentu. Saya tidak menafikan orang yang berfikir kekerasan. Teror mungkin ada. Tetapi terorisme itu dipicu bukan hanya satu faktor saja. Bisa saja orang melakukan kekerasan tapi jangan hanya dibahas dan dirujuk berdasar ciri madzab tertentu. Karena itu sangat tidak arif. Menurut saya, ini stigmatisasi dan kesalahan besar. Sekarang ini, dengan cara memberi stigma, bahkan sampai menyebut cirri-ciri fisik; misalnya mereka yang menggunakan celana pendek atau berjenggot dan lainnya ada sebuah stigmatisasi dengan target-target tertentu. Intinya, ada upaya agar kaum Muslimin kehilangan identitas. Ada usaha agar umat Islam menjadi tersudutkan dan agar orang menjalani Islam menjadi takut. Padahal menghidupkan sunnah kan mulia. Apa masalahnya dengan berjenggot dan mencintai Rasulullah, dengan berpakaian yang lebih Islami, dan dari segi-segi kesopanan sudah jelas dari nilai-nilai Islam.

Adakah pihak asing mengintervensi munculnya stigma Wahabi dan Transnasional?

Buku “Ilusi Negara Islam” merupakan bentuk transnasional yang nyata.

Siapa yang diuntungkan dalam kasus ini?

Yang punya kepentingan. Tidak perlu mengatakan pihak siapa. Stigma itu muncul karena ada benturan dua kekuatan. Kekuatan yang dominan yang ingin mapan. Kalau tidak kuat secara argumentasi maka dengan stigma. Dan ini dalam sejarah perjuangan Nabi, sering digunakan oleh kafir Quraisy. Mereka tahu rasulullah tahu, bahwa Rasul adalah al-amin, tapi mulai ajaran baru kemudian yang muncul stigma, bahwa nabi adalah dukun tukang sihir dan lain sebagainya. Plagiat dan lainnya. Karena orang Quraisy tidak bisa melawan secara argumentasi. Mereka ketakutan betul dan mempertahankan kekuatan mereka dengan stigma dan ini sudah sunnatullah. Islam dikaji ratusan tahun oleh orang barat. Mereka tahu betul. Meski mereka melakukan penggerogotan, Islam terlalu kokoh. Selalu bisa dipatahkan. Meski umat Islam mundur. Tapi mereka tahu, umat Islam memiliki satu kekuatan yang ketika bangkit dan sadar bisa menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Jadi harapannya, stigma itu membuat umat Islam tidak pede atau inferior dan tidak memuliki imunitas.

Bagaimana dengan tuduhan mantan Kabakin Hendropiono atau Komandan Densus 88, Suryadarma Salim yang mengatakan, ada hubungan bom dengan pendirian Daulah Islamiyah?

Minta kejelasan yang sejelas-jelasnya pada mereka. Apa yang dimaksud Wahabi oleh mereka?. Sebelum ditanggapi lebih jauh. Apakah betul definisi yang dimiliki oleh Syeikh Abdullah bin Wahab. Mereka menyinggung-nyinggung Daulah Islamiyah. Lha di Arab Saudi sendiri, tidak ada satupun wacana Daulah Islamiyah, apa lagi usaha menggulingkan Negara yang syah selama tidak benar-benar 100 persen kafir. Wong di Saudi demonstrasi saja haram. Kenapa haram, karena dianggap satu tindakan yang menjurus ke tindak satu pemberontakan. Sangat aneh jika Wahabisme dikaitkan dengan pendirian Negara Islam. Menyebut Wahabi saja mereka gak jelas maksudya apa.

source : islamic site
posted : dblackdwarf

Wahabi Jadi ‘Kambing Hitam’ Lagi!

Tudingan terhadap Wahabi dilontarkan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono pascapeledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta. Ini sangat menarik. Mengapa tokoh intelijen dan doktor di bidang terorisme itu membuat pernyataan yang sangat dangkal dan tak bisa diterima akal sehat?

Dalam wawancara di sebuah TV swasta, Hendropriyono mengatakan, pemerintah hendaknya lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa gerakan organisasi Islam transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, mestinya menjadi perhatian serius.

Jika kita kaji lebih dalam, nama Wahabi ini diberikan kepada sebuah aliran yang berawal dari pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebuah gerakan di Arab Saudi. Tetapi istilah Wahabi sebenarnya bukan berasal dari ia sendiri ataupun pengikut gerakannya, melainkan nama yang disematan oleh pihak luar. Sehingga patut dipertanyakan, Wahabi itu sebenarnya apa? Gerakan atau gagasan?

Dan itu semua bisa kita diskusikan secara ilmiah dan melalui jalur akademis. Jadi sangat naif bila seorang mantan Kepala BIN yang telah berhasil mempertahankan disertasinya yang baik tapi berbicara tanpa dasar yang ilmiah dan nyata.

Jika dilihat dari segi mazhab, sebenarnya Abdul Wahab menganut mazhab Hambali. Mazhab ini adalah salah satu dari empat mazhab yang jadi pedoman bagi banyak negara. Mengapa hal ini jadi masalah? Selain itu, ia juga belajar kepada Abu Ja’far At Thahawi, yang merupakan ulama bermazhab Hanafi. Jadi sebenarnya secara pemikiran Abdul Wahab jauh lebih maju. Kalau begitu, sisi ekstrim dan kakunya di mana?

Terkait gerakan Islam transnasional yang dikait-kaitkan dengan Wahabi itu adalah pendapat yang sangat dangkal dan tidak masuk akal. Sebab Islam tidak menganut lokalitas, atau dengan artian semuanya adalah transnasional (lintas negara). Istilah Islam rahmatan lilalamin itu juga berarti adalah Islam transnasional. NU dan Muhammadiyah juga seperti itu.

Memang kenyataan kelompok yang dituduh Wahabi itu cara dakwahnya cenderung ke tauhid, karena tauhid adalah sarana seorang muslim untuk meng-esa-kan Tuhannya. Mereka berpedoman seperti pada website resmi mereka (www.muslim.or.id), yaitu ‘memurnikan aqidah, menebar sunnah’.

Gerakan kelompok ini sangat mengganggu sebagian saudara kita yang masih kental dengan segalah hal berbau syirik, seperti pergi ke dukun, membawa jimat, dan perbutan syirik lainnya. Pernah situs tersebut memuat artikel yang berjudul “Teroris bukan Mujahid dan bukan Mujtahid!”. Dari situ dapat kita simpulkan pemikiran saudara muslim kita yang dijuluki Wahabi mempunyai pemikiran yang sangat cerdas dan modern.

Kalau soal urusan negara, kelompok ini sangat patuh dan taat, selama pemimpin itu tidak kafir. Mereka tidak mau berpolitik, apalagi demonstrasi. Contoh dalam hal penentuan 1 Syawal, mereka saja mengikuti pemerintah.

Wahabi di Arab Saudi saja tidak pernah berupaya menggulingkan negara yang sah. Demonstrasi saja haram. Karena dianggap suatu tindakan yang menjurus ke pemberontakan. Oleh sebab itu, sangat aneh jika gerakan Wahabi dikaitkan dengan pendirian negara Islam.

Yang sangat kita sayangkan adalah menuduh faham atau gerakan dan kelompok sebagai teroris dilakukan karena hal yang sepele, kebetulan ciri-ciri lahiriah para pelaku teroris mirip dengan ciri lahiriah kaum Wahabi. Seperti cara berpakaian dan cara berperilaku kebetulan sama dengan para pemeluk islam yang taat. Ini pendapat yang sangat tidak bijaksana.

Karena jika seorang muslim memakai celana di atas mata kaki, memanjangkan jenggotnya dan memakai baju gamis; dan yang perempuan menutup aurot dengan memakai jilbab panjang memakai cadar, tak bisa dengan sendirinya ditudingatau dikategorikan teroris. Sebab dalam Islam, menghidupkan sunnah adalah mulia.

Jadi bisa kita simpulkan tujuan dari tuduhan tersebut untuk melemahkan kaum muslimin dengan identitas keislamanya. Sebab di media kita lihat bahwa orang yang suka mengaji dan orang yang sopan berpakaian islami itu dikesankan sebagai pelaku teroris.

Dan jika ini sudah mempengaruhi pemikiran umat Islam, maka yang terjadi adalah jauhnya umat Islam ini dari syariat agamanya dan kembali lagi meniru perilaku bangsa barat di mana menebar aurot, mabuk, korupsi dan lainya. Kalau sudah seperti itu sangat gampang sekali bangsa ini dihancurkan sebab generasi penerusnya sudah rusak moralnya, dan hidupnya hanya untuk dunia.

Cara-cara seperti itu sudah lama dan sunnatullah dipakai oleh para musuh Islam. Islam sudah dikaji ratusan tahun oleh para orientalis Barat. Mereka tahu betul seperti apa Islam dan umat Islam sebenarnya. Mereka tahu, menghancurkan Islam bukan dengan jalan perang, melainkan dengan stigmatisasi. Karena, mereka tahu, umat Islam memiliki satu kekuatan yang ketika bangkit dan sadar, bisa menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Jadi stigma itu membuat umat Islam tidak pede dengan identitas muslimnya

sumber: http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/08/13/141508/wahabi-jadi-kambing-hitam-lagi/
===================================================================
Stigmaisasi!…. Hmmm,….mirip dengan pelajaran multikulturalisme dalam materi yang membahas stereotipe, alat yang ampuh utk beberapa orang