Pelabuhan

Lelakon si batu
Tangguhkan perahuku berlayar ke timur
Matahari yang mulai terbenam di sisiku
Menambat matahatiku yang belum subur

Berjuta ombak yang kurengkuh kemarin
Belum cukup menyaingi kehangatan angin pagi
Meski haluan mulai tercium aroma asin
Buah asam dari ladang belum menandingi

Perahuku
Masih bersandar di ujung papan
Menunggu
Tanda dari bandar pelabuhan

Segenggam … Diam

From: Agouche

Aku, diam! Di bawah naungan cahaya
Mengapung di air pengharapan Tenggelam…
Kuberontak …
Tengadah …
Mencuri pandang kebisuan yang
Merebut dinding pemakaman

Air perekat jiwa mengalir
Membawaku ke laut dalam
Dimensi yang telah mengerut

Ah… sepotong tangan tak bertubuh
Mencengkramku, aku terhenyak, di sana
Sesosok tubuh letih terbujur kaku, mukanya
Pucat, senyumnya dingin (sedingin es kutub)
Ah… dia tersenyum tanpa arah
Melekat di jasku
Byur…
Aku terbakar dendam kasih sayang
Mencari sisa-sisa air mata, yang
Entah dimana adanya?

Dia tersenyum penuh gelora
Tapi mukanya bisu, mencekam
Seluruh rongga kehidupan
Diam! Tak bersuara tanpa ragu
Bergelora, tanpa semangat
Ah, diam saja! Jangan banyak omong!

Bedebah, beraninya dalam air kasih yang masih hijau
Kutendang sudut hatimu hingga berkeping
Syukur! Umpatku

Aku terhenyak, diam dalam bisu, bisu dalam air mata
Mata kedinginan, dingin dalam jiwa, jiwa yang mengkerut
Habis dalam potongan waktu yang membisu
Hilang, pecah, tersungkur, berubah

Ah, dia pergi, naik kereta kuda
Keretanya lari kencang diterpa angin malam
Diam!