Menguji Pemilih

Menguji Pemilih

Masa kampanye Pemilu Indonesia telah berakhir pada 13 April 2019 jam 24.00 WIB, selebihnya setiap peserta pemilu tidak diperkenankan melakukan kampanye dengan bentuk apapun,sebagaimana diatur dalam UU Pemilu  No 7 Tahun 2017 dan PKPU No 23 Tahun 2018. Tiba saatnya para pemilih “seharusnya” dengan tenang menimbang dan menentukan kemanakah suaranya akan dilabuhkan. Karena hasilnya, akan mempengaruhi bagaimana mereka akan merasakan kehidupan berbangsa dan bernegara setidaknya 5 tahun ke depan. Apakah mereka akan menerima sama dengan periode sebelumnya, atau ingin ada perubahan.

Bisa dikatakan, sejak ditetapkan hanya 2 pasangan calon presiden dan wakil presiden antusiasme masyarakat lebih bergairah ketimbang sebelumnya. Namun, di sisi lain menjadi kekhawatiran juga dengan potensi polarisasi yang semakin menguat. Harapannya akan kembali cair seperti sediakala baik di dunia nyata maupun dunia maya.

 

Berpaling dari itu semua, sejatinya ada tantangan tersendiri bagi para pemilih dalam menentukan nasib dirinya di masa yang akan datang. Selain dari keterpilihan capres dan cawapres untuk menjadi presiden dan wapres, juga ada pilihan lain yang turut menentukan jalannya negara Indonesia yaitu keterpilihan Anggota Dewan, khususnya DPR RI.

 

Sistem ketatanegaraan kita memberikan kekuasaan kepada legislatif (DPR RI) untuk melakukan setidaknya 3 fungsi utama: Legislasi (pembuatan UU), controling (pengawasan terhadap eksekutif), dan budgeting (penganggaran APBN). Berdasarkan ketiga fungsi tersebut, maka DPR RI secara lembaga sudah seharusnya menjadi pihak yang melakukan check & balances terhadap ekskutif, siapapun presiden dan wakilnya. Sehingga keterpilihan presiden dan wakilnya sepatutnya tidak harus linear dengan program masing-masing partai yang ada.

 

Tapi pada praktek di lapangan, dinamika yang ada menyebabkan idealitas tersebut tidak selalu berjalan dengan baik. Mayoritas partai (di DPR) pendukung presiden dan wakil presiden kadangkala bisa menjadi “tukang stempel” apapun kebijakan yang diterbitkan eksekutif. Tentunya dengan berlindung di belakang alasan demi “stabilitas” jalannya pemerintahan.

 

Setiap pemilih, tentunya mengharapkan dari terpilihnya anggota dewan adalah dapat menjadi penyambung aspirasinya. Bila ditemukan kebijakan eksekutif yang tidak sejalan dengan arus besar aspirasi masyarakat, maka setiap partai harus mengoreksi. Pada bagian inilah pentingnya mempelajari program partai, baik dari pendukung dan pengusung capres cawapres, maupun lainnya.

 

Sayangnya, hal ini sepertinya terlewat dari radar penyelenggara. Sehingga para pemilih dibiarkan secara “mandiri” berupaya mengakses setiap program yang ditawarkan partai. Termasuk pada pemilu 2019 kali ini.

 

Kondisi masyarakat yang dominan “memakan” isu pencapresan ketimbang program kepartaian, ketersediaan informasi program partai yang minim, serta penyelenggara yang “fokus” debat capres cawapres, seolah menjadi situasi yang “perfect”. Panggung untuk mengadu gagasan antar partai tenggelam bersama jutaan hoax dari orang yang memancing di air keruh. Akibatnya, yang terdengar hanyalah janji-janji normatif capres cawapres yang sepertinya masih sulit ditagih dikemudian hari.

 

Pemilih capres cawapres seharusnya juga di edukasi, bahwa pilihan terhadap salah satu capres cawapres tidak harus sejalan dengan partai pendukung/pengusungnya, jika dinilai programnya tidak sesuai dengan aspirasinya. Sehingga mirip seperti perbedaan pilihan dari pemilih antar partai pengusung.

 

Pada prakteknya, hal ini sebenarnya bisa ditemukan. Namun jumlahnya bisa dikatakan tidak banyak jika berdasarkan kebebasan dan kemampuan pemilih dalam menentukan pilihan. Kebanyakan, perbedaan antara pilihan eksekutif dan legislatif dikarenakan faktor lain seperti kekeluargaan, asal daerah, keagamaan, atau bahkan mungkin juga karena faktor money politic. Sehingga, menjadi tugas bersama agar setiap pilihan pemilih baik dalam penentuan capres cawapres maupun anggota dewan adalah berdasarkan atas informasi yang dicari; diteliti; diputuskan secara sadar.

 

Solusi untuk masalah ini bisa dimulai dengan diadakannya debat antar perwakilan partai atas setiap program yang diusung. Hal ini bisa diuji baik oleh partai lain, profesional, termasuk pemilih pada umumnya. Karena di batas inilah pemilih bisa benar-benar diuji kedewasaan berdemokrasinya.

Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan

Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan

Assalamu’alaykum muslimin dan muslimah sekalian. Sebagaimana kita ketahui, dalam waktu dekat ini akan diadakan perhelatan akbar sedunia, yakni Haji. Pada kesempatan lain, ada juga ibadah yang tidak kalah pentingnya yaitu Qurban. Penulis yakin, hampir setiap kita sebagai umat Islam pasti ada niat untuk berqurban. Tentunya dengan kondisi dan keadaan masing-masing untuk pemenuhannya. Nah, berikut akan disampaikan Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan. Keren kan? Hehe

Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan

Sebagaimana pada tahun-tahun sebelumnya, baik secara pribadi, perwakilan panitia qurban di sekolah, panitia qurban di masjid dan mushola, panpel event sosial komunitas, panpel acara sosial perusahaan, semuanya berlomba untuk mendapatkan Hewan Qurban yang baik fisiknya, memenuhi syariat Islam, dan tentunya dengan harga yang terjangkau, alias murah. Termasuk salah satunya adalah Hewan Qurban Sapi Bali.

 

Sayangnya, agenda yang berulang setiap tahun ini kerap kali hanya lewat begitu saja. Semestinya ada pelajaran yang bisa diambil, agar ada persiapan yang lebih baik di tahun  berikutnya. Karena dengan persiapan yang baik, harapannya juga akan menghasilkan lebih baik.

 

Setidaknya ada dua Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan. Tips pertama, adalah dengan ikut serta pada program Tabungan Qurban Bersama. Pada beberapa penyedia program ini, biasanya harga yang ditawarkan jauh di bawah harga yang keluar menjelang Idul Adha. Meski sudah ada penawaran harga di depan, namun sebaiknya tabungan di titipkan pada pihak ketiga (misal bank syariah dengan akad wadiah). Tujuannya agar para pihak tidak mengusik tabungan sebelum terjadi kesepakatan Hewan Qurban mana yang disepakati untuk dijual dan dibeli. Selanjutnya, setelah ada deal tinggal dibuat Purchasing Order yang menjadi dasar (Standing Instruction) Bank mengeluarkan dana sebagai pembayaran objek jual belinya.

Tabungan-Qurban-Bersama-Mini-Flyer-Digital

Lantas, dimana penghasilan tambahannya? Pada tips pertama ini penghasilan tambahan bisa diperoleh dengan menjadi koordinator pengumpulan dana, biasanya Penyedia Program memberikan margin yang cukup kepada koordinator sebagai imbalan atas bantuannya mengkoordinir penagihan, penabungan, dan lainnya. Lumayan kan? Dapat harga Murah, Bobot Hewan Qurban lebih besar, imbalan sebagai koordinator, dan prioritas saat memilih hewan qurban datang pertama kali (kalau yang terakhir ini tidak semua penyedia program mengadakan). Berikut salah satu Penyedia Program Tabungan Qurban Bersama (klik di sini) yang direkomendasikan, namun untuk ketersediaan program apakah masih berlanjut atau tidak silakan dikonfirmasi sendiri ya.

 

Tips kedua, yaitu dengan memanfaatkan penawaran sebagai seller/reseller dari penyedia hewan qurban. Bila kita terdaftar sebagai Seller/Reseller, maka biasanya akan mendapatkan harga khusus yang pastinya di bawah harga jual. Daripada pusing bin ribet tawar menawar dan survey satu lokasi ke lokasi lain, maka ada baiknya ikut menjadi Seller/Reseller penyedia Hewan Qurban. Kelebihan lainnya adalah sebagai Seller/Reseller bisa mengetahui mana Hewan Qurban yang lebih dahulu datang, belum di booking oleh grup Tabungan Qurban Bersama, bobot yang sesuai kebutuhan pribadi/jamaah/komunitas jika dibandingkan dengan budget yang tersedia.

 

Permasalahan pada tips kedua ini adalah adanya konflik kepentingan (conflict of interest), khususnya pada panitia pengadaan hewan qurban di sekolah, masjid dan mushola, serta keperluan komunitas/perusahaan. Bagaimanapun perlu keelokan dan tata etika saat menjabat sebagai panitia, keputusan tetaplah diserahkan kepada yang berwenang, dan perlu dikedepankan kemaslahatan bersama. Sehingga tujuan untuk mendapatkan Hewan Qurban Berkualitas terpenuhi.

 

Nah, salah satu yang saat ini sedang membuka peluang usaha menjadi Seller/Reseller Hewan Qurban adalah SAPIBALIBAGUS.COM. silakan klik tautan berikut untuk mengetahui penawarannya: PELUANG BISNIS

Open Reseller Hewam Kurban Sapi Bali Bagus 2018

Oke, itu dia dua Tips Mendapatkan Hewan Qurban Murah Sekaligus Nambah Penghasilan. Semoga bermanfaat, silakan dibagikan jika berkenan.

Customer Advocacy

Customer Advocacy

Sudah lama rasanya, sampai lupa kapan terakhir jumatan di kampus yang mencetak ekonom dan pebisnis islami. Entah, rasanya ingin sekali berbagi isi khutbah yang disampaikan siang tadi.

Isinya sungguh menggugah hati, namun akan saya sandingkan dengan “ilmu bisnis” yang belakangan ini saya pelajari. Bila dirasa bermanfaat silakan berbagi

=======

SEGI BISNIS

Customer Advocacy

Menemukan customer siap membeli lagi (repetisi), membela (advocacy), dan promosi produk dengan rela hati.

Ada dua cara menemukan customer demikian:
1. Pengenalan produk

Memiliki customer yang siap mengadvokasi tidaklah datang dengan sendirinya. Ada tahapan yang mesti dilewati. Kurang lebih begini:

Cold > Warm > Hot > Loyality > Advocacy

Ketika kita memiliki suatu produk yang akan dijual, apalagi yang belum di kenal maka perlu upaya membuatnya terkenal. Kita akan bertemu dengan banyak tipe konsumen. Kebanyakan akan bertemu dengan tipe cold, untuk kasus di atas.

Tipe cold adalah tipe orang yang belum tahu tentang produk yang kita jual. Jangankan membela (advocacy), atau promosi. Tuk sekedar membeli saja sudah jauh panggang dari api.

Tipe kedua adalah tipe orang yang sudah mulai tahu dan mengenal produk kita. Cirinya, biasanya sudah mulai merespon informasi yang kita paparkan. Respon tersebut bisa saja dengan mulai bertanya tanya.

Sedangkan tipe ketiga biasanya sang target sudah mulai mengumpulkan data, bahkan membandingkan dengan produk serupa. Detil-detil terkait produk yang diinginkan/dibutuhkannya akan menjadi bahan pertimbangan untuk membeli di toko yang mana. Apakah toko kita, atau justru kompetitor kita. Tipe ini sudah siap membeli, karenanya tim sales mesti jeli, jangan sampai tipe ini jatuh ke lain hati.

Tipe ke empat adalah tipe ketiga yang sudah pindah menjadi pembeli yang memesan produk kita berulang kali. Ada yang bilang lebih baik merawat pembeli seperti ini, ketimbang mendapatkan yang baru.

Tipe terakhir adalah tipe yang dengan rela hati melakukan promosi, bahkan membela nama produk kita, meski kita tidak membayarnya. Jika sudah begini, rasanya tersanjung di hati.

2. Membuat comunity
Tak dapat dipungkiri, saat ini komunitas memiliki daya tawar tersendiri. Bahkan tak jarang produsen besar rela menggelontorkan uang tak sedikit untuk sekedar mendekati, syukur-syukur bisa berkolaborasi.

Tapi tak jarang juga ditemui, produsen yang secara aktif membuat komunitas yang kesemuaannya masih dalam rentang kendali. Tak perlu disebut satu persatu, pasti mudah ditemui.

Dengan adanya komunitas, para anggota akan saling berbagi tentang produk yang mereka miliki. Entah sekedar untuk unjuk gigi, atau memang ingin berbagi solusi. Namun, dari interaksi itu terbangun rasa percaya diri jika memakai hasil produksi. Interaksi itu memicu anggota melakukan promosi demi menambah besar komunitas, dan membela tanpa dibayar bila ada yang meremehkan atau menjelekkan.

Bahkan bagi beberapa perusahaan, pembelaan costumer lebih berharga ketimbang pembelaan pengacara. Karena rasanya tidak mungkin mengharap pengguna produk kompetitor membela membela produk selain produk yang dipakainya.

=======
Lalu apa hubungannya dengan khutbah siang tadi?
=======

SEGI AGAMA

Khutbah siang tadi sebenarnya tidak ada sedikitpun menyinggung tentang “segi ekonomi” sebagaimana saya paparkan sebelumnya. Namun, bagi saya ada sedikit kemiripan dengan pola dengan bahasan di bawah ini.

Secara garis besar, khutbah siang tadi menyampaikan “siapa yang menjaga Agama Allah, maka Allah akan menjaganya”

Pada kata “menjaga” yang kedua, dipaparkan tafsir berdasarkan salah satu kitab — yang mohon maaf saya lupa judulnya. Bahwa, Allah swt akan menjaga manusia dalam dua hal:
1. Menjaga di dunia, artinya setiap kebutuhannya sudah dijamin penjagaannya oleh Allah.
2. Menjaga di akhirat, artinya menjaga nasib yang bersangkutan saat nanti diakhir zaman.

Kali ini, yang mau saya tekankan dan hubungkan dengan bahasan segi ekonomi pada kata “menjaga” yang pertama. Kata “menjaga” memiliki kemiripan prasyarat dengan 2 cara menemukan customer yang mau mengadvokasi (membela).

Maka setidaknya, perlu 2 syarat agar tersedia orang yang mau menjaga Agama Allah swt. Apa sajakah syaratnya:

1. Kenal dengan agamanya
Hanya orang yang kenal dengan agamanya, yang akan menjaga (membela) agamanya. Khotib mencontohkan, Abu Bakar ra yang menginfaqkan seluruh hartanya untuk kepentingan agama ketimbang keluarganya. Hal itu dilakukan Abu Bakar karena ia mengenal agamanya.

Contoh kedua adalah, Ali ra yang rela menggantikan Rasulullah saw tidur di dipan pada saat/kondisi rumah tersebut dikepung. Ali ra yang mengenal agamanya lebih memilih sebagai “stunt man” ketimbang keselamatan nyawanya.

Kedua sahabat tersebut tidaklah orang yang tetiba membela agamanya, melainkan karena pemahaman yang mendalam atas janji penjagaan Allah swt terhadap mereka. Dan pemahaman itu, didapat dari sentuhan khusus Rasulullh saw.

Coba dinilai, kategori atau tipe manakah kedua sahabat yang diceritakan di atas dibanding dengan bahasan customer sebelumnya?

Cold > Warm > Hot > Loyality > Advocacy

Lalu bagaimana dengan kita?

Silakan dicek ke hati nurani masing-masing. Sejauh mana pengenalan kita kepada Allah swt, Rasulullah saw, dan Al Qur’an, tentunya akan berbanding lurus dengan seberapa besar pembelaan terhadapnya.

Jangan-jangan, tidak adanya pembelaan kepada agama karena tidak ada pengenalan kepada penciptanya, utusan-Nya, atau setidaknya pada panduannya. Jangankan mengenal, bisa saja (mungkin) entah sudah berapa lama tak membacanya.

2. Ada sebuah kalimat nasihat yang saya ingat, kalau mau tau tentang seseorang maka lihatlah siapa temannya.

Bahkan ada perumpamaan:
Jika kita bergaul dengan pandai besi maka bisa saja terkena percikan bara api, atau setidaknya terkena asap yang kurang enak aromanya

Namun, jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka setidaknya kita akan mendapat keharuman semerbak mewangi.

Oleh karenanya, syarat kedua agar bisa ikut barisan penjaga agama, dan mendapat penjagaan Allah swt, mulailah pilah dan pilih teman sejatinya.

Sebagaimana bahasan tentang komunitas di atas, pergaulan sebagai seorang muslim juga akan memiliki warna yang berbeda antara muslim yang satu dengan lainnya. Pada komunitas yang sering ingatkan tentang agama, maka ia akan tercelup dengan nilai agama. Mulai dari terbukanya mata, hingga terpejam melepas raga. Sejak urusan masuk kamar mandi, hingga urusan dagang, waris, dan memimpin sekelompok manusia.

Semua diterima baik suka maupun duka, baik lapang maupun sempit, baik sehat maupun sakit, baik tua maupun muda, baik pria maupun wanita. Bukan mengikuti yang disuka lalu buang yang tak disuka.

Khutbah itu pun akhirnya ditutup dengan pertanyaan:

Siapa lagi yang mau menjaga agama ini, jika bukan umatnya sendiri?

Lampung Darurat Begal

Masih ingat berita begal di depok, bahkan yang heboh pembakaran oleh warga di tangsel?

Saya sendiri sudah lama tahu kosakata begal, sejak kuliah di Lampung. Dimana begal sudah jadi kejahatan puluhan tahun, kata teman saya. Berikut tulisan seorang kawan dari Lampung. Silakan dinikmati 😉

===

Beberapa hari ini halaman facebook saya dipenuhi oleh status dan komentar atas meninggalnya seorang sahabat karena dibegal yang lokasinya berada di Perkebunan Dusun Tegalsari Pekon Kutodalom Kecamatan Gisting, Tanggamus.  Dari beberapa status yang ada dikomentari secara beragam mulai dari mengecam tindakan para pembegal, merasa sedih karena kehilangan, mengusulkan agar senjata api dilegalkan untuk dipegang oleh masyarakat, menyarankan supaya diadakan lagi penembak misterius, sampai pada mendokan Almarhum semoga mendapatkan tempat terbaik di SisiNya. Status laman facebook yang membahas meninggalnya seorang sahabat tersebut berlangsung selama beberapa hari di media sosial, menjadi pembicaraan, buah bibir sampai-sampai muncul hastag #LampungDaruratBegal beberapa hari setelah kejadian tersebut.
Hastag #LampungDaruratBegal bukanlah tanpa alasan, pembegalan yang terjadi di Lampung bukanlah hal yang baru atau terjadi hanya sekali dua kali saja namun sudah lama dan hampir terjadi setiap saat, baik pada malam hari, pagi hari ataupun disiang bolong sekalipun, mulai dari perkampungan yang sepi sampai di tengah Kota yang ramai.  Para pembegal beroperasi mulai dari menggunakan senjata tajam hingga menggunakan senjata api, tidak tanggung-tanggung pelaku begal menggunakan cara-cara kekerasan untuk melumpuhkan korbannya.  Korban pembegalan mulai dari luka ringan, berat sampai bahkan tidak sedikit yang meninggal dunia, orang yang dibegalpun tak pandang bulu mulai dari laki-laki, perempuan, orang tua, anak sekolah, pegawai negeri, bahkan polisi pun tidak luput menjadi korban pembegalan.

Sampai kapan hal ini terus terjadi
Pembegalan yang terjadi di Lampung hari demi hari semakin meresahkan masyarakat, ada saja korban pembegalan yang terus berjatuhan, dimana saja dan kapan saja begal mengintai, rasa aman masyarakat Lampung terenggut, jangankan untuk beraktifitas bebas jauh diluar untuk keluar rumah saja takut, tindakan para pembegal yang tak segan-segan membunuh korbannya telah menjadi momok yang menakutkan bagi masyarakat sehingga keamanan, kenyamanan dan keselamatan terasa sangat mahal di Lampung.

Rendahnya tingkat pendidikan, tingginya angka pengganguran dan kemiskinan merupakan faktor utama terjadinya pembegalan, selain itu penegakan hukum yang lemah oleh aparat penegak hukum juga menjadi salah satu faktor semakin suburnya kasus pembegalan di Lampung, padahal tindakan tegas dan efek jera oleh pihak berwenang harus diterapkan sehingga tidak ada lagi pembegal yang lolos begitu saja dan bebas dari jerat hukum, jangan sampai masyarakat justru bertindak main hakim sendiri sebagai akibat penilaian masyarakat yang melihat tampak adanya pembiaran atau mungkin seperti terkesan dilindungi sebagai akibat dari ketidak mampuan penegak hukum dalam memberantas begal-begal yang terus merajalela.

Peran Pemerintah
Pemerintah Daerah dan unsur penegak hukum bertanggung jawab penuh untuk menuntaskan masalah ini, jangan sampai permasalahan ini terus menerus terjadi menjadi masalah klasik di bumi Sai Bumi Ruwa Jurai.  Pembegalan sudah cukup lama terjadi di Lampung, sejak Gubernur Lampung Syahroedin ZP terpilih hingga pemerintahan Oedin selama sepuluh tahun selesai masalah pembegalan ini masih saja tetap terjadi mengintai siapa saja yang lengah.  Saat ini, telah berganti Pemerintahan baru belum ada tanda-tanda penyelesaian yang berarti untuk mengatasi permasalahan ini, selayaknya Gubernur yang baru harus mampu mengambil tindakan strategis untuk menuntaskan masalah ini, jangan sampai pemberitaan di luar sana Provinsi Lampung menjadi Provinsi yang terkenal karena pemberitaan negatif sebagai Provinsi penghasil begal dan sarang yang nyaman bagi para begal untuk tumbuh dan terus beroperasi.  

Tindakan para pembegal adalah peyakit kronis yang kini menimpa Lampung, penyakit ini harus segera disembuhkan sampai ke akar-akarnya, jangan sampai penyakit kronis ini terus menular menghasilkan kader-kader begal baru dan menambah titik-titik rawan begal baru akibat lemahnya peran Pemerintah dan lemahnya penegakkan hukum dalam hal ini Kepolisian Daerah (Polda) Provinsi Lampung maupun Polres dalam memberantas pembegalan.  Melalui tulisan ini saya mencoba untuk mengingatkan kembali agar supaya Polda Lampung bersama Polres-polres dan jajarannya kembali memperkuat Tim Walet sebagai Tim Khusus Pemburu Begal di Provinsi Lampung karena pembegalan telah menjadi kejahatan luar biasa karena telah menghilangkan rasa aman, kenyamanan dan ketenangan dimasyarakat.

Selain penguatan Tim khusus Pemburu begal yang beroperasi secara khusus perlu juga dilibatkannya peran intelejen yang bekerja secara permanen, terus menerus, dan sistematis, karena untuk mencari motor-motor hasil pembegalan tentu tidaklah pekerjaan yang sulit karena sudah jelas-jelas motor hasil rampasan tersebut pasti dijual dan ada tempat penampungannya.  Tentu saja pembersihan aparat penegak hukum dari oknum-oknum yang melindungi bandit-bandit begal harus terlebih dahulu ditertibkan, bila tidak itu sama saja seperti memotong pohon yang tidak sampai pada akarnya karena tunas-tunas baru akan tetap tumbuh disebabkan akar-akarnya masih tetap menancap kuat kedalam.  
Kemudian untuk memutus mata rantainya, selain upaya pemberantasan yang dilakukan oleh pihak Kepolisian untuk upaya pencegahan dan penanggulangan sejak awal peran Pemerintah Daerah secara maksimal harus digalakkan melalui program-program pemberantasan kemiskinan, peningkatan jumlah manusia terdidik, dan pembukaan lapangan kerja seluas-luasnya karena faktor kemiskinan, kesenjangan sosial, pengangguran dan rendahnya tingkat pendidikan sangat berpengaruh besar terhadap tumbuhnya kriminalitas seperti tindakan pembegalan yang mayoritas dilakukan oleh anak-anak muda putus sekolah tanpa pekerjaan dan latar belakang keluarga berada dibawah garis kemiskinan.  Terakhir, Yang pasti dan patut dicamkan oleh aparat Pemerintah dan Penegak Hukum di Provinsi Lampung bahwa Kebutuhan akan rasa aman merupakan hak yang paling mendasar yang dijamin dan wajib diperoleh oleh setiap orang.

Waalahualam bisshawab.

Tulisan kawan, 10 Oktober 2014.