Mataram-Sumbawa-Bima (19-24 Juni 2008)

Hari pertama

Menembus awan, mengiringi matahari menuju peraduan, menyembunyikan bayangan di pojok rerumputan. Dingin, udara yang terhirup di bandara Selaparan, Ampenan. Pijakan kaki yang letih menelusuri lorong manusia yang memperebutkan bingkisan malam.

 

Berselancar mencari Taliwang, merengkuh sepiring kehangatan sebelum terbenam dalam pelukan mimpi.

 

Hari Kedua

Benang merah di ujung atap mengundang mata kaki bertualang. Penuhi rasa lapar akan ilmu pengetahuan. Entah berapa buku ku telan lantas kumuntahkan, di muka prajurit tuan-tuan. Mengalirkan energi yang tersumbat botol kebisuan; rasa takut.

 

Beranjak susuri jalan setapak mengejar purnama diatas teratak. Habiskan setengah malam, merayu Balqis belajar kalam, beriring santri yang baru lulus; sebrangi anak samudera menuju pelabuhan pemilik kerajaan Cirebon.

 

Hari Ketiga

Mengintip prajurit yang berbaris di dasar kerajaan, mendulang keringat; tampilkan persatuan. Tertegun wedana bersahaja, menuju pos penjagaan; menambah koleksi lukisan.

 

Hari ini, kubiarkan bidadari menggoda dari ujung selatan; dari balik gugusan bintang yang tertandan. Oh Tuhan, selamatkan kerajaan bumi dari tipu daya setan. Cerahkan segenap akal pikiran, para pencari makam; dengan dipimpin guru peradaban.

 

Seratus ribu Perak yang berserakan, mengantar panglima perang ke medan perang; ditumbuk menjadi persenjataan. Sementara aku, hanya pengelana yang mulai ditinggal bulan dan di rayu penunjuk jalan; lepaskan keraguan bangun sandaran, pelabuhan.

 

Hari Keempat

Jalan perjuangan Diponegoro, menjadi saksi kelembutan Bima; dalam peperangan antar kerajaan. Bertalukan ringkikan kuda dan anjing liar, kusematkan mimpi dilorong pengharapan.

 

Genderang perang kembali ditabuhkan, memaksa kaki berlari melaporkan; mata ini butuh tangisan. Oh teman, ayo bangun peradaban; kerajaan keadilan. Mulai dariku, darimu, dari kita, untuk semua; gapai kesejahteraan.

 

Langgam kemenangan menjadi pertanda, gunung Tambora siap diperintahkan; muntahkan kesuburan.Iiringi roda-roda penjelajah karavan, pulang ke kampung halaman; semalaman.

 

Hari Kelima

Sapaan matahari terbawa di ujung mata angin, tunjukkan kurnia yang melimpah; lelah. Sepuluh ribu ketukan beriring di daun telinga, sambangi mimpi yang tertunda. Terbuai dalam portal suara yang tertuang dalam ribuan kata, nyaris melewati panggilan sang pemilik Jiwa.

Tak kusangka, titian hidayah berjalan disampingku, begitu dekat; hanya beberapa langkah. Cahayanya menggoda hati berlari mengejar tapak kaki di tepian pasir senggigi; bersyukur. Tapi, demonstrasi di jalan berliku membalikkan rute menuju pembantaian domba-domba.

Oh Tuhan, lagi-lagi ku terbenam dalam kesunyian..menanti kabar dari prajurit sang guru, dalam perebutan gudang senjata. Tak apalah… masih ada harapan di malam terakhir, tuk sekedar menjaring rumput laut dan mutiara di jalanan gelap nan panjang. Sebagai penanda, aku sang pengelana.

Hari Keenam

Berawal dari munajah pada-Mu, kunikmati kurnia yang melimpah didinginnya kerinduan pada kaki Rinjani. Meski rasa sesal menggelayuti, ku tabalkan Gunung Gemunung itu kan kusingkap, lembutnya tepian senggigi kan ku nikmati ;di lain hari. Tunggu aku … Garudaku telah menanti di ujung kerajaan, Ampenan.

Akhirnya, dari batas cakrawala hanya ada ketakjuban atas lukisan alam di bawah kerajaan langit. Kerajaan  yang memiliki tanah seputih kapas, menjulang menunjuk sang raja hari; mengundang untuk kembali, kalahkan mata kaki.

2 Comments

  1. Alhamdulillah sudah selesai nulisnya….
    Nama-nama tokoh, tempat dalam cerita ini adalah nyata,
    bukan kisah bualan semata,
    semoga dapat kembali lagi ke sana
    merengkuh yang tertunda 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *