Menyoal Strategi Golput; Yang Solid Yang Menang?

Pilihan manusia untuk menentukan sebuah tindakan tak terlepas dari pengetahuan, pengalaman, dan kondisi sekitarnya saat itu. Pengetahuannya akan suatu hal menjadikannya landasan pikiran dalam mengambil kesimpulan. Pengalaman yang telah dijalani menjadi pertimbangan diri pengambilan keputusan . Tapi, manusia sebagai anak lingkungannya, dapat saja mengesampingkan hal-hal itu.
Pertanyaannya adalah, sejauh mana komparasi yang disodorkan dapat menentukan tindakan ketika saatnya bertindak?
Gong Kompetisi
Dua belas Juli kemarin, tiga hari setelah penetapan partai politik peserta pemilu. KPU secara resmi menggelar ajang kompetisi antar parpol di Indonesia hingga 5 April 2009 mendatang. Sekitar sembilan bulan sampai lahir politisi baru, semoga lahir dengan normal.
Adalah rentang waktu yang sangat panjang bagi aktivis partai yang sebelumnya terbiasa “sprint” dalam menggelar “dagangan”nya kepada rakyat Indonesia. Mungkin, strategi pada kontestasi pemilu sebelumnya dapat dianggap usang. Tapi, dapat saja di wilayah dan waktu tertentu strategi “sprint” itu kembali digunakan.
Seperti proses pemasaran sebuah produk dalam sebuah perusahaan, ada saja bentuk penawaran yang menggiurkan tapi dibaliknya penuh dengan jebakan. Namun, ada satu hal yang sangat jarang berbeda yaitu kemasan yang “dijejalkan” ke alam pikir.
Keunikan menarik mata untuk melihat, mengundang telinga untuk mendengar, bahkan tidak jarang sampai mempengaruhi untuk memilihnya. Meski pilihan yang sudah dibuatnya, kadang menimbulkan penyesalan di akhir karena telah “dikadali”.
Begitu pula dengan parpol yang ditetapkan oleh KPU. Masing-masing akan mengemas sedemikian rupa ide dan “barang” yang ditawarkannya. Sehingga, tidak hanya dikenal namun menjadi salah satu yang masuk dalam daftar pilihan. Bagi pemula yang benar-benar baru, memasuki tahap ini saja adalah prestasi yang luar biasa. Terlebih jika dapat meraup orang yang masih terombang-ambing dalam kebimbangan.
Namun pada bagian lain ternyata kemasan bukanlah salah satu penentu. Pada kontestasi yang bersifat maraton perlu pelengkap yang mampu menyolidkan keputusan. Kata itu adalah konsistensi. Terdengar mudah, tapi waktu yang akan membuktikan.
Belum lekang dalam ingatan kita satu dekade lalu, tumbangnya perjalanan pemerintahan di bawah bayang-bayang orde baru. Begitu pun dengan pernak-pernik silih bergantinya pemerintahan di zaman yang kita kenal dengan nama reformasi. Hampir tiap parpol telah membuktikan kinerjanya dalam menuangkan konsep  Negara. Adakalanya  program-program mereka meyakinkan masyarakat, namun tidak sedikit yang menimbulkan tanda tanya belakangan ini atas maraknya kasus korupsi yang menimpa para pejabat pada masa itu.
Entah, apakah anak bangsa ini (termasuk penulis) menjadi mudah melupakan dan memaafkan tiap kesalahan? Kemudian, lagi dan lagi memberikan kesempatan. Setidaknya hal ini membuktikan pengemasan dalam menyampaikan, serta konsistensi dalam meyakinkan. Mampu mengalahkan beberapa pengetahuan dan pengalaman yang pernah terekam.
Golput: Sebuah Strategi?
Belakangan, kecenderungan pemilih yang kerap disebut golput semakin meningkat. Berbagai faktor pun diungkapkan, dari keengganan mendatangi tempat pemungutan suara sampai karena faktor teknis seperti proses pendaftaran, masalah administrasi, bahkan masalah izin dari atasan.
Namun belakangan ada yang menenggarai bahwa golput merupakan suatu strategi yang dijalankan oleh parpol tertentu untuk memangkas suara dari partai lainnya yang kurang bisa menjaga konstituennya. “Prasangka” ini di dasarkan pada asumsi bahwa pada beberapa pilkada di daerah yang sebelumnya didominasi oleh partai tertentu, partai tersebut mengalami degradasi elektabilitas.
Menurut penulis, ada hal mendasar yang berbeda antara pilkada dengan pemilu legislatif. Sistem rekrutmen politisi yang akan menempati kursi Kepala Daerah tidak sama dengan Anggota Dewan. Pada pemilihan Anggota Dewan, tidak sepenuhnya masyarakat dibawa pada proses memilih orang sebagaimana pemilihan kepala daerah. Sehingga ada pada tataran tertentu tingkat fanatisme terhadap partai mampu digeser.
Pergeseran itu tidak terlepas dari peran media yang “mendoktrin” masyarakat untuk terus belajar dan menjadi learning civilian (masyarakat pembelajar). Suguhan pilkada demi pilkada, membuat penulis menilai kecerdasan masyarakat yang sedang tumbuh ini kedepannya perlu diiringi political will dalam membentuk peraturan perundang-undangan. Setidaknya, mampu menjinakkan pola pikir liar akibat perbedaan sistem pemilihan tersebut.
Pemenang
Kegamangan masyarakat dalam menentukan pilihan, bisa jadi merupakan proses pembelajaran. Mempelajari berbagai informasi yang diterima, baik itu putih atau hitam atas suatu partai, atas seseorang yang dijagokan. Kemudian menjadi potret tersendiri yang terekam apik untuk diputar ulang suatu saat nanti.
Menghadapi masyarakat pembelajar, partai-partai pun harus mau dan mampu untuk belajar. Mungkin dapat dibilang terlambat, namun waktu yang masih ada setidaknya sampai hari pencoblosan dapat dioptimalkan untuk sekedar mau mendengar dan melihat, sebelum “berjanji”, sebelum memenangkan kompetisi.
Kemenangan suatu partai harus mampu menjadi kemenangan bangsa. Ibnu Khaldun dalam karyanya Mukaddimah menuliskan tentang berbangsa bahwa kemenangan terdapat di pihak yang mempunyai solidaritas lebih kuat, dan anggota-anggotanya lebih sanggup berjuang dan bersedia mati guna kepentingan bersama. Dapatkah ini diterapkan dalam kepartaian? Selamat berjuang !!!

4 Comments

  1. Apapun pilihan yang diambil dalam hidup, dampaknya akan kembali kepada si pengambil keputusan. Mungkin tidak saat ini, tapi esok, lusa atau entah kapan Tuhan memberikan ketentuan.

    Seperti halnya, apakah hari ini akan keluar rumah?
    mungkin jika keluar rumah akan mendapat rezeki yang melimpah atau malah kecopetan, tapi siapa tahu jika tetap di rumah justru tertimpa serpihan sayap pesawat :D…

    atau misal yang lain: seperti perilaku kita di jalan raya, pilihan menyerobot jalan ketimbang tertib mungkin baik untuk keperluan" kita. Namun, jangan menyesal jika ternyata itu membuat jalan semakin macet, lantas salah seorang keluarga kita yang sedang sakit dan harus segera ditangani medis terjebak di kemacetan yang telah kita buat sebelumnya.

    seperti salah satu tema di sebuah majalah yang agak lawas
    "Hidup hanya sekali, jangan sampai salah pilih"

    Kurang lebihnya mohon dimaafkan

    4+4=8
    sempat ga sempat harus dimaafkan 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *