Wahabi Jadi ‘Kambing Hitam’ Lagi!

Tudingan terhadap Wahabi dilontarkan mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Abdullah Mahmud Hendropriyono pascapeledakan bom di Hotel JW Marriott dan Ritz-Carlton di Jakarta. Ini sangat menarik. Mengapa tokoh intelijen dan doktor di bidang terorisme itu membuat pernyataan yang sangat dangkal dan tak bisa diterima akal sehat?

Dalam wawancara di sebuah TV swasta, Hendropriyono mengatakan, pemerintah hendaknya lebih mengantisipasi gerakan Wahabi di Indonesia. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa gerakan organisasi Islam transnasional seperti Ikhwanul Muslimin, mestinya menjadi perhatian serius.

Jika kita kaji lebih dalam, nama Wahabi ini diberikan kepada sebuah aliran yang berawal dari pemikiran Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, sebuah gerakan di Arab Saudi. Tetapi istilah Wahabi sebenarnya bukan berasal dari ia sendiri ataupun pengikut gerakannya, melainkan nama yang disematan oleh pihak luar. Sehingga patut dipertanyakan, Wahabi itu sebenarnya apa? Gerakan atau gagasan?

Dan itu semua bisa kita diskusikan secara ilmiah dan melalui jalur akademis. Jadi sangat naif bila seorang mantan Kepala BIN yang telah berhasil mempertahankan disertasinya yang baik tapi berbicara tanpa dasar yang ilmiah dan nyata.

Jika dilihat dari segi mazhab, sebenarnya Abdul Wahab menganut mazhab Hambali. Mazhab ini adalah salah satu dari empat mazhab yang jadi pedoman bagi banyak negara. Mengapa hal ini jadi masalah? Selain itu, ia juga belajar kepada Abu Ja’far At Thahawi, yang merupakan ulama bermazhab Hanafi. Jadi sebenarnya secara pemikiran Abdul Wahab jauh lebih maju. Kalau begitu, sisi ekstrim dan kakunya di mana?

Terkait gerakan Islam transnasional yang dikait-kaitkan dengan Wahabi itu adalah pendapat yang sangat dangkal dan tidak masuk akal. Sebab Islam tidak menganut lokalitas, atau dengan artian semuanya adalah transnasional (lintas negara). Istilah Islam rahmatan lilalamin itu juga berarti adalah Islam transnasional. NU dan Muhammadiyah juga seperti itu.

Memang kenyataan kelompok yang dituduh Wahabi itu cara dakwahnya cenderung ke tauhid, karena tauhid adalah sarana seorang muslim untuk meng-esa-kan Tuhannya. Mereka berpedoman seperti pada website resmi mereka (www.muslim.or.id), yaitu ‘memurnikan aqidah, menebar sunnah’.

Gerakan kelompok ini sangat mengganggu sebagian saudara kita yang masih kental dengan segalah hal berbau syirik, seperti pergi ke dukun, membawa jimat, dan perbutan syirik lainnya. Pernah situs tersebut memuat artikel yang berjudul “Teroris bukan Mujahid dan bukan Mujtahid!”. Dari situ dapat kita simpulkan pemikiran saudara muslim kita yang dijuluki Wahabi mempunyai pemikiran yang sangat cerdas dan modern.

Kalau soal urusan negara, kelompok ini sangat patuh dan taat, selama pemimpin itu tidak kafir. Mereka tidak mau berpolitik, apalagi demonstrasi. Contoh dalam hal penentuan 1 Syawal, mereka saja mengikuti pemerintah.

Wahabi di Arab Saudi saja tidak pernah berupaya menggulingkan negara yang sah. Demonstrasi saja haram. Karena dianggap suatu tindakan yang menjurus ke pemberontakan. Oleh sebab itu, sangat aneh jika gerakan Wahabi dikaitkan dengan pendirian negara Islam.

Yang sangat kita sayangkan adalah menuduh faham atau gerakan dan kelompok sebagai teroris dilakukan karena hal yang sepele, kebetulan ciri-ciri lahiriah para pelaku teroris mirip dengan ciri lahiriah kaum Wahabi. Seperti cara berpakaian dan cara berperilaku kebetulan sama dengan para pemeluk islam yang taat. Ini pendapat yang sangat tidak bijaksana.

Karena jika seorang muslim memakai celana di atas mata kaki, memanjangkan jenggotnya dan memakai baju gamis; dan yang perempuan menutup aurot dengan memakai jilbab panjang memakai cadar, tak bisa dengan sendirinya ditudingatau dikategorikan teroris. Sebab dalam Islam, menghidupkan sunnah adalah mulia.

Jadi bisa kita simpulkan tujuan dari tuduhan tersebut untuk melemahkan kaum muslimin dengan identitas keislamanya. Sebab di media kita lihat bahwa orang yang suka mengaji dan orang yang sopan berpakaian islami itu dikesankan sebagai pelaku teroris.

Dan jika ini sudah mempengaruhi pemikiran umat Islam, maka yang terjadi adalah jauhnya umat Islam ini dari syariat agamanya dan kembali lagi meniru perilaku bangsa barat di mana menebar aurot, mabuk, korupsi dan lainya. Kalau sudah seperti itu sangat gampang sekali bangsa ini dihancurkan sebab generasi penerusnya sudah rusak moralnya, dan hidupnya hanya untuk dunia.

Cara-cara seperti itu sudah lama dan sunnatullah dipakai oleh para musuh Islam. Islam sudah dikaji ratusan tahun oleh para orientalis Barat. Mereka tahu betul seperti apa Islam dan umat Islam sebenarnya. Mereka tahu, menghancurkan Islam bukan dengan jalan perang, melainkan dengan stigmatisasi. Karena, mereka tahu, umat Islam memiliki satu kekuatan yang ketika bangkit dan sadar, bisa menjadi kekuatan yang tak terkalahkan. Jadi stigma itu membuat umat Islam tidak pede dengan identitas muslimnya

sumber: http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/08/13/141508/wahabi-jadi-kambing-hitam-lagi/
===================================================================
Stigmaisasi!…. Hmmm,….mirip dengan pelajaran multikulturalisme dalam materi yang membahas stereotipe, alat yang ampuh utk beberapa orang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *